Catatan Anjos
Info Lainnya
Loading...

Akan Ada Seleksi PPPK Bagi Guru Honorer Berusia 35 Tahun Keatas

Jakarta - Para guru honorer berusia lebih
dari 35 tahun dapat mengabdi untuk negara melalui pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Proses seleksi itu akan dilakukan setelah seleksi CPNS 2018 selesai.

“Mudah-mudahan ini adalah solusi yang terbaik. Dengan kerendahan hati saya mohon kepada para guru untuk kembali ke sekolah masing-masing, untuk membina, mengasuh, mengantar, dan mengajar anak-anak didik kita. Tetap fokus mengajar di sekolah,”  kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir dalam pernyataan tertulis, seperti dikutip dari kompas.com, Sabtu (22/9/2018).

Ia menegaskan, para guru honorer agar tak lagi melakukan kegiatan di luar tugasnya sebagai guru karena pemerintah telah memberi solusi. Juga agar tidak berkecil hati karena tidak dapat mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) karena terkendala usia yang melebihi dari persyaratan. Maka mengikuti seleksi PPPK adalah solusinya.

“Untuk para guru honorer yang tidak memenuhi syarat karena usia, pintu alternatifnya melalui seleksi PPPK dengan kualitas tetap diutamakan,” kata dia.

Oleh karenanya, Mendikbud mengimbau kepada pemerintah daerah dan kepala sekolah untuk tidak lagi mengangkat guru honorer.

Ada 108 Ribu, Formasi Guru CPNS Tahun 2018

Pada pelamaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Tahun Anggaran 2018 Sebanyak 108 ribu formasi guru diperuntukkan bagi instansi pemerintah daerah se Indonesia dan Kementrian Agama.

Formasi sebanyak 96 ribu diperuntukkan bagi Pemerintah Daerah yang membuka formasi pelamaran jabatan guru, yang terdiri dari Guru Kelas dan Mata Pelajaran sebanyak 88 ribu formasi dan Guru Agama sebanyak 8 ribu formasi.

Selain formasi guru untuk Instansi Pemerintah Daerah, masih ada formasi Guru Madrasah Kementerian Agama yang bertugas di Kabupaten/Kota sebanyak 12 Ribu formasi. Sehingga jika di total ada 108 ribu formasi guru yang akan dilamar.

“Proporsi terbesar formasi CPNS tahun ini adalah untuk jabatan-jabatan teknis dan spesialis yang saat ini masih kurang, antara lain tenaga pendidikan, tenaga kesehatan, serta tenaga yang memiliki kualifikasi teknis di bidang infrastruktur sesuai dengan program Nawacita,” ujar Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Syafruddin, pada acara Rapat Koordinasi Penyampaian Rincian Penetapan Kebutuhan Formasi PNS dan Persiapan Pengadaan CPNS Tahun 2018 di Komplek Bidakara, Jakarta, Kamis (06/09), seperti dikutip dari menpan.go.id

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor : 021/RILIS/BKN/IX/2018 tanggal 6 September 2018. Pendaftaran akan  dimulai 19 September 2018 melalui portal nasional via http://sscn.bkn.go.id dan tidak ada pendaftaran melalui  portal mandiri oleh Instansi.

Formasi yang tersedia untuk diperebutkan oleh pelamar berjumlah 238.015 yang terdiri dari 51.271 jabatan untuk Instansi Pusat yakni 76 Kementerian/lembaga dan 186.744 jabatan untuk 525 Instansi Daerah.

Selanjutnya proses seleksi akan menggunakan sistem Computer  Assisted Test (CAT BKN) baik untuk pelaksanaan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

Untuk kesiapan lokasi tes seleksi CPNS 2018 hingga saat ini direncanakan akan dilaksanakan di 176 titik lokasi yang terdiri dari Kantor BKN Pusat, 14 Kantor Regional BKN dan 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BKN yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, fasilitas mandiri dan kerjasama dengan Pemerintah Daerah.

Perihal syarat administrasi pendaftaran, Kepala BKN mengimbau seluruh Instansi penerima CPNS 2018 agar memberikan persyaratan yang wajar dan tidak menyusahkan masyarakat pelamar. Persyaratan seperti akreditasi dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) harus disesuaikan dengan indeks prestasi di wilayah masing-masing.
Upacara Bendera Dilaksanakan Pada 3 Momen Berdasarkan Permendikbud Baru

Upacara Bendera Dilaksanakan Pada 3 Momen Berdasarkan Permendikbud Baru

Ada 3 momen pelaksanaan upacara bendera yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Pedoman Upacara Bendera Di Sekolah, ditetapkan tanggal 25 Juni 2018 ditandatangani oleh Mendikbud, Muhadjir Effendy.

Pada pasal 2 tertulis :
(1) Upacara di sekolah paling sedikit dilaksanakan pada pagi hari setiap:
a. peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus;
b. hari Senin; dan
c. hari besar nasional.

(2) Hari besar nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c antara lain meliputi:
a. Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei;
b. Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei;
c. Hari Lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni; dan
d. Hari Pahlawan pada tanggal 10 November.

Itulah momen pelaksanaan Upacara Di Sekolah. Sejak 2018 ini Upacara Di Sekolah Wajib Nyanyikan Lagu Indonesia Raya 3 Stanza.
Upacara Di Sekolah Wajib Nyanyikan Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Upacara Di Sekolah Wajib Nyanyikan Lagu Indonesia Raya 3 Stanza


Mulai tahun 2018 ini, setiap upacara bendera yang dilaksanakan di sekolah harus menyanyikan lagi Indonesia Raya secara lengkap 3 stanza. Selain itu Lagu Indonesia Raya juga tidak hanya dinyanyikan oleh kelompok paduan suara saja, namun seluruh peserta upacara.

Aturan baru dalam pelaksanaan upacara tersebut dimuat dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Pedoman Upacara Bendera Di Sekolah, ditetapkan tanggal 25 Juni 2018 ditandatangani oleh Mendikbud, Muhadjir Effendy. Peraturan Menteri tersebut mulai diberlaku sejak tanggal
diundangkan yakni 29 Juni 2018.

" Lagu Indonesia Raya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dinyanyikan secara lengkap dalam 3 (tiga) stanza oleh peserta Upacara dengan berdiri tegak dan sikap hormat." demikian bunyi pasal 18 ayat 1 peraturan menteri tersebut.

Untuk sikap menghormat, dalam peraturan itu juga dinyatakan tidak hanya seperti menghormat pada umumnya yakni mengangkat tangan kanan sampai pelipis alis. Namun juga diperbolehkan hanya menempelkan tangan kanan dalam keadaan terkepal di dada kiri.

" Berdiri tegak dan sikap hormat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan berdiri tegak di tempat masing - masing dengan: 
a. mengepalkan telapak tangan kanan diletakkan pada dada sebelah kiri dengan ibu jari menempel di dada sebelah kiri atau mengangkat tangan kanan sebatas kepala dengan jari telunjuk menempel pada pelipis;
b. meluruskan lengan kiri ke bawah;
c. mengepalkan telapak tangan kiri dengan ibu jari menghadap ke depan merapat pada paha kiri; dan
d. menghadapkan wajah pada Bendera." demikian bunyi pasal 18 ayat 3 Permendikbud tersebut.

Selain lagu Indonesia Raya, lagu wajib nasional juga di nyanyikan oleh seluruh peserta Upacara, sementara Kelompok Paduan Suara hanya menyanyikan lagu Mengheningkan Cipta.

" Dalam pelaksanaan kegiatan Upacara di sekolah, Pemimpin Lagu/Dirigen bertugas:
a. memimpin seluruh peserta Upacara menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu wajib nasional pada saat dan tempat yang telah ditentukan; dan
b. memimpin Kelompok Paduan Suara menyanyikan lagu Mengheningkan Cipta pada saat dan tempat yang telah ditentukan." Bunyi Pasal 17 Permendikbud itu.

Juga telah ditentukan bahwa paling sedikit Upacara Bendera Dilaksanakan Pada 3 Momen Berdasarkan Permendikbud Baru itu.
Kemenag Inginkan UU Guru dan Dosen Dipisah

Kemenag Inginkan UU Guru dan Dosen Dipisah

Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia berkeinginan agar Undang-undang 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen direvisi dengan memisahkan UU antara Guru dan Dosen. 

"UU 14 tahun 2005 sudah expired, sehingga mendesak untuk direvisi,” ujar Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Suyitno, dikutip dari Republika.co.id, Senin (23/7).

Menurutnya, pemisahan Undang-Undang guru dan Dosen harus dilakukan. Karena persoalan yang dihadapi antara guru dan dosen dalam melaksanakan tugas juga berbeda.

"Masalah guru dan dosen berbeda. Jadi perlu mendapat perlakuan dan payung hukum yang berbeda pula," kata Suyitno.

Apalagi menurut Suyitno UU nomor 14 tahun 2005 belum mengakomodir unsur tenaga pendidikan dan belum mampu menjawab tantangan dan isu guru saat ini. 
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar digolongkan menjadi dua yaitu faktor ekstern dan faktor intern.Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar diri individu tersebut, sedangkan faktor intern yaitu faktor yang berasal dari dalam individu tersebut.

Dimyati dan Mudjiono dalam bukunya yang berjudul Belajar Dan Pembelajaran mengemukakan bahwa faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa yang berpengaruh pada proses belajar sebagai berikut:

1) Sikap terhadap belajar. Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan. Siswa memperoleh kesempatan belajar. Meskipun demikian, siswa dapat menerima, menolak, atau mengabaikan kesempatan belajar tersebut.
2) Motivasi belajar. Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Motivasi balajar pada diri siswa dapat menjadi lemah. Tidak adanya motivasi belajar maka melemahnya kegiatan belajar dan hasil belajar rendah.
3) Kosentrasi belajar. Kosentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian.
4) Mengolah bahan belajar. Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswauntuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa.
5) Menyimpan perolehan hasil belajar siswa. Menyimpan perolehan hasil belajar siswa merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara memperoleh pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek dan waktu yang lama.
6) Menggali hasil belajar yang tersimpan. Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan telahterterima.
7) Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar. Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan suatu puncak hasil belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan balajar, menunjukkan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar.
8) Rasa percaya diri siswa.
9) Intelengensi dan keberhasilan belajar.
10) Kebiasaan belajar.
11) Cita-cita siswa.

Sedangkan untuk Faktor-faktor ekstern tersebut adalah sebagai berikut:

1) Guru sebagai Pembina siswa belajar.
2) Prasarana dan sarana pembelajaran.
3) Kebijakan penilaian
4) Lingkungan sosial siswa di sekolah.
5) Kurikulum sekolah.
Sedangkan ,Slameto di bukunya yang berjudul Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya menjelaskan beberapa faktor-faktor intern yang dapat mempengaruhi balajar yaitu :

1) Faktor jasmaniah
a. Faktor kesehatan, sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagianya bebas dari penyakit.
b. Cacat tubuh, merupakan suatu yang menyebabkan kurang atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan.

2) Faktor psikologis
a. Intelengensi, merupakan kecakapan yang terdiri tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri kedalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
b. Perhatian, merupakan keaktifan jiwa yang dipertinggi dan jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek.
c. Minat, merupakan kecenderungan untuk memperhatikan dan mengenal beberapa kegiatan. Kegitan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang di sertai dengan rasa senang.
d. Bakat, merupakan kemauan untuk belajar yang akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata.
e. Motif, merupakan daya pengerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu.
f. Kematangan, merupakan suatu tingkah atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.

3) Faktor kelelahan
a. Kelelahan jasmani, terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan tumbuh kecenderungan untuk membaringkan tubuh.
b. Kelelahan rohani, terlihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.

Lebih jauh Slameto mengemukakan beberapa faktor ekstern yang dapat mempengaruhi balajar yaitu:

1) Faktor keluarga
a. Cara orang tua mendidik
b. Relasi antar anggota keluarga
c. Suasana rumah
d. Keadaan ekonomi
e. Pengertian orang tua
f. Latar belakang kebudayaan

2) Faktor sekolah
3) Faktor masyarakat

Para ahli pendidikan merupakan faktor intern dan faktor ekstern, seperti guru, administrator pendidikan, konselor, terlibat secara langsung dalam proses pendidikan di sekolah. Dari uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar terdiri dari dua, yakni faktor intern dan faktor ektern.Faktor intern merupakan faktor yang berasal dari diri seorang siswa, sedangkan faktor ekstern terdiri dari guru, orang tua, sekolah, faktor jasmaniah, psikolog serta administrator pendidikan.

Kemendikbud Siap Revitalisasi 18 SMK Menjadi SMK Perfilman

Kemendikbud Siap Revitalisasi 18 SMK Menjadi SMK Perfilman

Batu - Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Sesjen Kemendikbud) Didik Suhardi mengungkapkan setidaknya terdapat 18 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tahun ini siap direvitalisasi untuk menyiapkan tenaga terampil di bidang perfilman. Menurut Didik, Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan SMK sedang menyiapkan mekanisme bantuan teknis dan non teknis untuk mendorong peningkatan kapasitas SMK tersebut.

"Kemendikbud, dalam hal ini Pusbangfilm dan Direktorat Pembinaan SMK dapat memberikan pembinaan kepada SMK di bidang broadcasting agar dapat menyediakan tenaga perfilman yang berkualitas," tuturnya di acara pembukaan Rapat Koordinasi Pengembangan Perfilman Indonesia, di Batu Selasa malam (13/2/2018).

Menurut Sesjen Kemendikbud, dari hasil pemetaan, saat ini terdapat 112 SMK yang memiliki jurusan/peminatan broadcasting yang dapat dikembangkan menjadi SMK bidang perfilman. Kemendikbud akan memastikan pengembangan kapasitas SMK tersebut dapat menjawab tantangan perfilman nasional, khususnya dalam menghadapi era persaingan global. Hal ini sejalan dengan pengembangan salah satu sektor prioritas pemerintah, yaitu industri kreatif.

"Jangan sampai nanti tenaga-tenaga perfilman nasional kita diisi oleh tenaga dari negara-negara tetangga," ujar Didik.

Mendatang, Indonesia akan menjadi pasar perfilman yang menjanjikan. Didik berharap agar selain menjadi pasar, Indonesia juga dapat memiliki industri perfilman yang dapat disejajarkan dengan negara seperti India dengan Bollywood, atau Amerika Serikat dengan Hollywood. Sejalan dengan upaya pengingkatan kuantitas produksi film lokal dan jumlah penonton, peningkatan kualitas perfilman nasional juga terus dilakukan. Beragam kerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya pemerintah daerah terkait proses produksi film sampai penyediaan tenaga terampil di level 3 sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) melalui SMK yang kewenangan pengelolaannya berada di bawah pemerintah provinsi.

"Saat ini jumlah penonton film Indonesia sudah meningkat cukup signifikan. Sebelum ada Pusbangfilm kita ketahui jumlah penonton sekitar enam belas juta per tahun. Sekarang sudah mencapai empat puluh dua juta per tahun. Ini harus kita jaga dan tingkatkan,"

Senada dengan Sesjen Kemendikbud, Niniek L. Karim mengapresiasi kinerja pemerintah dalam menggairahkan industri perfilman nasional. Menurutnya, Pusbangfilm harus dapat berperan dalam meningkatkan kerja sama dan hubungan baik antar pemangku kepentingan perfilman nasional.

Rapat Koordinasi Pengembangan Perfilman Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusbangfilm, resmi dibuka dengan ditandai pemukulan gong oleh aktris senior Niniek L. Karim. Turut hadir dalam rakor kali ini perwakilan asosiasi dan komunitas perfilman, dinas pendidikan dan dinas kebudayaan provinsi, unit pelaksana teknis Kemendikbud, serta berbagai lembaga terkait perfilman nasional di antaranya Lembaga Sensor Film (LSF), Badan Perfilman Indonesia (BPI), dan Perusahaan Film Negara (PFN).

Berlangsung sampai dengan 15 Februari 2018, rakor kali ini mengusung tema “Kerja Bersama Memajukan Perfilman Indonesia”. Empat topik besar yang dibahas di dalam rakor kali ini di antaranya Kebijakan Perfilman; Pengembangan Apresiasi Film; Peningkatan Daya Saing Sumber Daya Manusia Perfilman dan Komunitas Perfilman; serta Data Perfilman dan Rencana Induk Perfilman Nasional (RIPN). Di sela kegiatan, peserta rakor juga dapat menonton film Indonesia dari mobil bioskop keliling yang merupakan bantuan dari Pusbangfilm untuk dimanfaatkan PPPTK PKn dan IPS.
Sejak 2013, Guru SD ini Cabuli 65 Siswa Laki-laki

Sejak 2013, Guru SD ini Cabuli 65 Siswa Laki-laki

Surabaya – Seorang guru sekolah dasar di Surabaya, MSH (29) ditangkap polisi karena mencabuli siswa laki-laki sebanyak 65 orang. Dari penyelidikan, Perbuatan keji pelaku telah berlangsung sejak 2013. Korbanya rata-rata berusia 8-11 tahun.

Dikutip dari Liputan6.com, Jumat (23/2/2018), enam korban di antaranya telah melaporkan tindakan asusila pelaku ke polisi. Aksi bejat pelaku dilakukan di sejumlah tempat mulai dari ruangan kelas, kolam renang, hingga bus yang digunakan untuk karya wisata.

Saat ini polisi terus mendalami kasus asusila yang dilakukan guru ini dengan meminta keterangan sejumlah saksi, termasuk orangtua korban.

"Karena pelaku ini wali kelas, jadi pelaku ini main pegang-pegang korbannya, karena mungkin korban takut kepada gurunya yang juga merupakan wali kelas korban," jelas Irjen Pol Machfud Arifin Kapolda Jawa Timur.

Atas perbuatannya, dijerat dengan Undang-Undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun.
[#][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done